Pages

Senin, 19 Desember 2011

ARIMA

 Pengertian ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average)
Model ARIMA (p,d,q) merupakan campuran antara AR(p), MA(q) yang telah distasionerkan dengan melakukan pembedaan sebanyak d kali. Model umum ARIMA (p,d,q) yaitu
Øp (B) (1-B)d Zt = Өq (B) at
Dimana: (B) Zt = Zt-1               ;           (B)2 Zt = Zt-2                ;           (B) at = at-1

Telah dijelaskan bahwa tidak  mudah menentukan p dan q. Box dan Jenkins menawarkan 4 (empat) langkah-langkah permodelan ARIMA.
1.      Identifikasi
Mengidentifikasi data dilakukan statisioner dalam varians dan statisioner dalam means. Untuk melakukan identifikasi statisioner dalam varians dilakukan transformasi box cox. Data dikatakan telah stasioner dalam varians jika nilai Rounded Value (lambda) sama dengan 1. Jika data tidak stasioner dalam varians maka menggunakan transformasi box-cox yang sesuai dengan nilai rounded value pada pengujian yang pertama. Identifikasi selanjutnya yaitu statisioner dalam means yang dapat di lihat pada gambar time series plot. Data dikatakan telah stasioner dalam means jika time series plot dapat ditarik garis tengah secara lurus. Jika data belum stasioner dalam means maka dilakukan differencing.
Lamdha (λ) value
Transformation
λ = 2
Y' = Y pangkat dua
λ = 0,5
Y' = akar Y
λ = 0
Y' = ln Y
λ = -0,5
Y' = 1/ akar Y
λ = -1
Y' = 1/Y
2.      Estimasi
Setelah p dan q ditentukan, mengestimasi parameter AR dan MA yang ada pada model. Estimasi ini bisa menggunakan teknik kuadrat terkecil sederhana maupun dengan metode estimasi tidak linier. Menentukan model awal dengan ACF dan PACF.
3.      Tes Hipotesis
Setelah model ARIMA nya ditentukan, parameternya telah diestimasi, kemudian kita akan cek apakah model ARIMA lain yang lebih cocok atau sama cocoknya dengan model terpilih. Syarat asumsi yang digunakan sebagai berikut.

a. White noise
Pada pengujian ini digunakan pengujian L-jung Box, dengan hipotesis sebagai berikut.
Hipotesis:
H0 : Data telah white noise
H1 : Data tidak white noise
b. Residual Normal
Pada pengujian ini digunakan hasil output pengujian residual kolmogorov smirnov,dengan hipotesis sebagai berikut.
Hipotesis:
H0 : Residual telah berdistribusi normal
H1 : Residual tidak berdistribusi normal
c. Signifikansi parameter
Hipotesis:
H0 : Data tidak signifikan
H1 : Data telah signifikan
Sebaliknya, bila tidak memenuhi salah satu asumsi maka harus melakukan pilihan ulang dari awal lagi. Oleh sebab itu, metodologi Box-Jenkins disebut juga suatu proses iterasi.
4. Tes Diagnostik
            Pada tahap ini, akan dipilih model yang terbaik dengan kriteria kebaikan model yaitu dengan memilih berdasarkan nilai MSE, MA, AIC, SBC dan lain-lain.
5. Ramalan
Secara umum dan pada banyak hal, ramalan yang diperoleh  dengan menggunakan model ARIMA lebih reliabel bila dibandingkan dengan ramalan yang menggunakan model ekonometri biasa.

Ø Rincian Tahapannya yaitu sebagai berikut.
1.      Tahap Identifikasi
Seperti yang telah didiskusikan terdahulu, alat utama untuk identifikasi model ARIMA adalah Fungsi Autokorelasi (ACF) dan Fungsi Autokorelasi Parsial (PACF) melalui korelogramnya. ACF mengukur korelasi antar pengamatan dengan jeda k, sedangkan PACF mengukur korelasi antar pengamatan dengan jeda k dan dengan mengontrol korelasi antar dua pengamatan dengan jeda kurang dari k. PACF adalah korelasi antara yt dan yt-k setelah menghilangkan efek yt yang terletak diantara kedua pengamatan tersebut β Ingat bahwa dalam regresi berganda, k mengukur tingkat perubahan terhadap y bila xk berubah satu unit dengan β menganggap regresor lainnya konstan. k disebut juga koefisien regresi parsial. Acuan model ACF dan PACF sebagai berikut.
Model
Pola ACF
Pola PACF
AR (p)
Menyusut secara eksponensial atau pola gelombang sinusoidal yang tidak begitu jelas
Ada tiang pancang sampai lag p
MA (q)
Ada tiang pancang yang jelas sampai lag q
Menyusut secara eksponensial
ARMA (p,q)
Menyusut secara eksponensial
Menyusut secara eksponensial

2.      Tahap Estimasi Model ARIMA
Dari proses identifikasi, kita menduga bahwa series yang dianalisis merupakan proses ARIMA  maka modelnya sebagai berikut:
Yt = δ + a1 Yt-1 + a2 Yt-2 + . . .+ et
3.      Tahap Tes Diagnostik
Untuk meyakinkan apakah ARIMA merupakan model  yang cocok dengan data yang dianalisis, kita perlu menguji apakah residual dari model tersebut merupakan white noise  (random) atau tidak.  Untuk itu lakukan tahapan sebagai berikut.
     i.      Estimasi model ARIMA
   ii.      Hitung residual dari model tersebut
 iii.      Hitung ACF dan PACF kemudian plot
 iv.      Uji apakah ACF dan PACF signifikan signifikan, ini merupakan indikasi 
   v.      Bila ACF dan PACF tidak signifikan, ini merupakan indikasi bahwa residual merupakan white noise yang artinya modelnya telah cocok.
4.      Tahap Peramalan
yaitu menuliskan modelnya dan mengevaluasi nilai MSE.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar